Membaca Kehidupan (1)

by prio sudiyatmoko

Sekiranya kita hidup di zaman Nabi, apa yang ada di benak kita? Bayangkan kondisi masyarakat jahiliyah. Ada seorang ibu sedang melahirkan. Di sebelahnya ada lubang galian. Jika yang lahir anak perempuan, segera anak itu dikubur hidup-hidup. Tapi jika lahir laki-laki, maka ia tersenyum dan membawa pulang bayinya.

Di sekitar Ka’bah, ratusan berhala dipuja-puja. Di rumah-rumah pun ada. Setiap hari orang mengitarinya. Di tempat lain, seseorang menyembah patung berbahan roti. Dia minta sesuatu pada patung itu. Dia lapar dan minta izin kepada patung itu untuk memakannya. Lalu dia kenyang tapi tuhannya habis. Maka dia akan membuat lagi tuhan yang baru.

Bayangkan pula seorang perempuan dikelilingi 10 lelaki. Mereka adalah suaminya. Selain mereka tak boleh ada yang mendekatinya. Dia baru melahirkan. Tebak siapa bapak sang bayi? Ya, satu di antara 10. Tapi perempuan itulah yang punya otoritas. Dia membuat undian. Satu di antara mereka harus terpilih sebagai bapak sang bayi. Maka dialah yang membawa bayinya.

Itu sedikit gambaran masyarakat jahiliyah di kala itu. Muhammad SAW menemui kondisi itu sejak beliau kecil. Di masa mudanya beliau bergaul dengan kaumnya tanpa ikut-ikutan melakukan adat jahiliyah. Mungkin ada konflik di dalam batinnya. Hati sanubari yang bersih tak terima melihat kenyataan jahiliyah di masyarakatnya. Tapi beliau bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan. Maka beliau menyendiri dan merenungi kondisi kaumnya hingga datang petunjuk Allah kepadanya, “Iqra!”.

“Bacalah!” Jibril menyampaikan. Tapi Muhammad tak bisa membaca! “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan! Yang menciptakan insan dari segumpal darah.”

Apa yang dibaca? Dalam ayat itu tak disebutkan objek yang harus dibaca. Maka ini adalah perintah yang luas. Saat itu Nabi sedang bingung dan disuruh membaca, padahal beliau tak bisa membaca. Maka yang perlu dibaca bukan hanya tulisan dalam kitab-kitab. Bukan syair-syair yang dilantunkan orang, sedangkan beliau benci pada penyair kala itu. Beliau sedang bingung dan disuruh membaca, “Bacalah dengan nama Tuhanmu!”.

Sekarang kembali pada kita. Kita tidak berada di zaman Nabi. Tapi apakah sekarang tidak ada fenomena jahiliyah? Perlu direnungkan bahwa jahiliyah itu tidak terbatas pada masa tertentu. Jahiliyah adalah mental dan cara hidup yang menyimpang dari fitrah insaniyah. Maka bacalah kehidupan ini. Bacalah segala fenomena di sekitar kita. “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan!”

Lihatlah dengan mata hati. Ada remaja berlainan jenis berduaan di dalam kamar tanpa status nikah. Ada yang terpaksa jadi seorang ibu sebelum sah sebagai istri. Sementara itu ada pemuda yang bunuh diri karena cintanya ditolak oleh sang gadis pujaan. Ada siswa SMA yang bunuh diri karena cemas tak lulus ujian, tak mau mengecewakan kakek nenek yang merawatnya. Mahasiswa yang gagal studi terjun bebas dari gedung kampusnya. Pernah terkabar pula siswa SD, karena malu menunggak SPP, mengakhiri hidup di tali gantungan. Bacalah, fenomena apa ini?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: