Cerita Terindah

Untuk anggota Quranic Enlightenment

Nur Arif Hidayatmo 05 Oktober 2009 jam 13:18


Surat Yusuf dalam Al Quran, hampir keseluruhannya menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf. Dan Al Quran sendiri yang menjelaskan bahwa Surat Yusuf ini adalah Kisah Yang Paling Baik (Yusuf: 3). Sebenarnya ada juga kisah Nabi Ya’qub di dalam surat ini yang tidak kalah indahnya. Dan berikut, adalah pelajaran-pelajaran di dalam Surat itu.

Setelah Yusuf dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, lalu baju Nabi Yusuf dilumuri dengan darah palsu oleh saudara-saudaranya untuk mengesankan bahwa Yusuf telah dimakan serigala, dengan perasaan yang sedih Ya’qub berkata,

“…maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)

Perjalanan cerita Yusuf belum berakhir. Ia dijual sebagai budak dengan harga yang sangat murah, dan dibeli oleh seorang pejabat yang ada Mesir. Ketika beranjak dewasa, istri pejabat itu menggoda Yusuf. Ia tutup semua pintu-pintu agar tidak ada tempat bagi Yusuf untuk berlindung dari fitnah itu. Yusuf hanya berkata,

“Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (Yusuf: 23)

Yusuf akhirnya dituduh bermaksud berbuat serong, dan dianjurkan agar dia dipenjara atau dihukum dengan azab yang pedih. Istri pejabat itu belum selesai melakukan tipu daya. Ia malah mengundang seluruh wanita yang ada di kota untuk melihat Yusuf. Yusuf hanya berkata,

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku…” (Yusuf: 33)

Di dalam penjara Yusuf menta’wilkan mimpi dua orang dengan sangat baik. Kemampuan itu adalah pemberian Allah. Yusuf berkata,

“…yang demikian itu adalah sebagian dari apa-apa yang Diajarkan oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.” (Yusuf: 37)

Akhirnya Yusuf dibebaskan dari penjara. Di hadapan Raja, Yusuf meminta agar istri pejabatnya dan wanita-wanita yang ada di kota untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi di hari itu, yang membuatnya dipenjara untuk sebuah perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Mereka berkata,

“Maha sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.” Berkata Istri Al Aziz, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk orang yang benar.” (Yusuf: 51)

Yusuf pun mengakui sesuatu yaitu bahwa nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan,

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang Diberi Rahmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

Yusuf diangkat menjadi Bendahara Negara, sebagai bentuk limpahan rahmat Allah dan sebagai bukti bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf: 56)

Bertahun-tahun Ya’qub bersedih karena kehilangan Yusuf, yang entah masih hidup atau sudah tidak ada lagi. Dan selama melewati tahun-tahun itu, Ya’qub terus berkata,

“…maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 83)

Karena teramat duka citanya kepada Yusuf, kedua mata Ya’qub sampai memutih karena kesedihan. Orang-orang berkata kepada Ya’qub’

“Demi Allah, kamu senantiasa mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat, atau termasuk orang-orang yang binasa.” (Yusuf: 85)

Ya’qub hanya menjawab,

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya. Hai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus-asa dari rahmat Allah….” (Yusuf: 86-87)

Akhirnya mereka menemukan Yusuf. Di hadapannya, mereka mengakui semua kesalahannya. Apakah Yusuf dendam pada saudara-saudaranya? Tidak!

Yang ada di hari itu hanya PEMAAFAN.

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang diantara semua penyayang.” (Yusuf: 92)

Saat baju Nabi Yusuf diletakkannya ke wajah Ya’qub, dia dapat melihat lagi. Anak-anaknya yang dahulu melakukan makar terhadap Yusuf, mereka meminta agar ayahnya memintakan ampun kepada Allah dan mereka mengakui kesalahan-kesalahannya. Apakah Nabi Ya’qub dendam kepada mereka? Tidak!

Yang ada di hari itu adalah DOA-DOA YANG BAIK.

“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 98)

Surat ini ditutup dengan ayat yang indah.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal….” (Yusuf: 111)

Wallahu a’lam.

    • purwatiwidiastuti
    • Januari 23rd, 2010

    subhanallah wal hamdulillah walailaha ilallahu allahu akbar

    purwati
    http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
    http://purwati-ningyogya.blogspot.com
    http://purwatining.multiply.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: