Dan Rasul pun Beri’tikaf, Menjelang Berakhirnya Hari-hari Seperti Yang Sedang Kita Lalui Ini

Untuk anggota Quranic Enlightenment

Nur Arif Hidayatmo 09 September 2009 jam 6:17

Hanya dalam hitungan hari, masa-masa yang penuh berkah ini akan usai. Masa dimana suara-suara qira’ah di bumi akan naik melewati pintu-pintu langit. Atau masa dimana hanya karena Tuhannya, banyak sekali manusia yang meninggalkan makan dan minum yang halal, pada siang hari yang panas. Dan itulah ketakwaan yang sesungguhnya.

Seperti musim demi musim yang terus berganti, atau hari-hari yang terus berjalan, Ramadhan ini pun akan mendekati masa akhirnya. Ia sama dengan kita, sama-sama hamba yang ingin taat kepada Allah. Ia memilki waktu beredar. Dan masa beredarnya kini hampir paripurna.

Rangkaian-rangkaian ibadah telah kita lewati. Tapi masih ada yang tersisa. Dan Rasul sering melakukannya selama sepuluh hari terakhir di bulan seperti ini.

“Sesungguhnya Nabi biasa beri’tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau wafat, kemudian istri-istrinya melakukan i’tikaf sesudah wafatnya.” [dalam riwayat Bukhari dan Muslim]

Dan di awal sepuluh hari terakhir itu, selesai shalat Subuh, beliau memulai i’tikafnya:
“Adalah Nabi bila ingin beri’tikaf, lebih dahulu shalat Subuh, kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” [dalam riwayat Bukhari dan Muslim]

Semua bentuk ibadah yang bisa kita lakukan, entah itu shalat sunnah, membaca Al Quran, berzikir, bermuhasabah, beristighfar, menghafalkan Al Quran, mengajarkan Al Quran, dan berdoa memohon kepada Allah, dapat kita kerjakan selama i’tikaf.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan, “I’tikaf adalah memusatkan hati dan pikiran seseorang hanya kepada Allah dan membersihkan hatinya dari segala gangguan dan rintangan yang dapat melemahkan, membelokkan, atau menutupnya dari jalan-jalan yang diridhai Allah.” [Drs. M. Thalib, 160 Tanya Jawab Amaliah Ramadhan]

Apa itu Lailatul Qadar?
“Carilah Lailatul Qadar pada tanggal ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” [dalam riwayat Bukhari]

“Barangsiapa hendak mencarinya (Lailatul Qadar), carilah dia pada tujuh hari terakhir.” [dalam riwayat Bukhari dan Muslim]

“Carilah dia pada malam kesembilan, ketujuh, atau kelima (dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan).” [dalam riwayat Bukhari]

Bila malam itu kita temui, apa yang harus kita lakukan?
“Barang siapa berjaga pada malam Lailatul Qadar, karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, dosa-dosanya pada masa lalu akan diampuni. [dalam riwayat Tujuh Ahli Hadits, selain Ibnu Majah]

“Bacalah: ‘ALLAHUMMA INNAKA ‘FUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA WA’FU’ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Pengampun, suka mengampuni, maka ampunilah aku)’.” [dalam riwayat Tirmidzi]

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: