Al Anbiyaa’: Sejarah yang Menggetarkan

Untuk anggota Quranic Enlightenment

Nur Arif Hidayatmo 12 Oktober 2009 jam 9:41

Al Anbiyaa’: Sejarah yang Menggetarkan

Surat Al Anbiyaa’ (Nabi-Nabi) adalah surat yang ke-21 dalam Al Qur’an. Mulai ayat yang ke-48, dikisahkan kepada kita beberapa kehidupan Nabi-nabi secara berurutan.

Dimulai kisah Musa dan Harun yang diberi Taurat oleh Allah sebagai penerangan dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang takut akan azab Tuhannya, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan tibanya hari kiamat. (Al Anbiyaa’: 48-49)

Dikisahkan akan Ibrahim sebelum Musa dan Harun. Ia mendapati patung-patung disembah sebagai Tuhan padahal mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Saat Ibrahim menghancurkan mereka satu per satu, mereka diam saja. Akhirnya Ibrahim ditangkap dan dibakar dengan api yang sangat besar. Allah sendiri yang membuktikan kepada mereka bahwa Allah, yang selalu disembah Ibrahim, adalah Dia yang akan menyelamatkan Ibrahim di dunia dan di akhirat. Tidak sedikit pun tubuh Ibrahim yang terbakar. Itu adalah perlindungan Allah kepada mereka yang menyembah-Nya. (lihat Al Anbiyaa’: 69)

Lalu kepada Ibrahim yang selalu menyembah Allah, Allah menyelamatkannya ke negeri Syam. Kemudian menganugerahinya keturunan, Ishaq dan Ya’qub, keduanya adalah orang-orang yang soleh. Sedang kepada Luth yang juga selalu menyembah Allah, Allah pun menyelamatkannya ke negeri Syam. Ia diselamatkan dari azab yang mengerikan di negeri asalnya, padahal negeri itu hancur tak tersisa. (Al Anbiyaa’: 74)

Nuh, dengan doanya, Allah pun menyelamatkannya dari bencana yang besar. Itu karena ia tidak ikut mendustakan ayat-ayat Allah dan ia tidak ikut menjadi jahat. (Al Anbiyaa’: 76-77)

Ditundukannya gunung-gunung dan burung-burung agar bersama Daud mereka bertasbih kepada Allah. Diajarkan kepadanya pula cara membuat baju besi, agar bisa memeliharanya dari peperangan. Semua itu diberikan kepada Daud agar ia menjadi hamba yang pandai bersyukur. (Al Anbiyaa’: 79-80)

Ditundukkan untuk Sulaiman angin yang berhembus sangat kencang. Dan setan-setan yang menyelam ke dalam laut.

Ada kisah Ayub, kisah yang sangat mengharu-biru. Saat itu dia sakit. Tapi dia hanya mengadu kepada Allah.

“(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.” (Al Anbiyaa’: 83)

Apakah setelah itu ia sembuh?

“Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami Kembalikan keluarganya kepadanya, DAN KAMI LIPATGANDAKAN BILANGAN MEREKA, sebagai suatu rahmat dari Sisi Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al Anbiyaa’: 84)

Ada kisah Ismail, Idris, Dzulkifli, mereka adalah orang-orang yang sabar.

Lalu ada kisah Yunus yang sangat menggetarkan. Ia berada di dalam perut ikan. Terombang-ambing di dalam lautan, dan di waktu malam yang gelap gulita.

Mungkinkah ia bisa selamat? Bisakah ia keluar dari keadaan yang sangat mengerikan itu?

Allah pun menyelamatkannya. Itu karena Yunus beriman kepada Allah. Tapi apa yang dilakukan Yunus di saat-saat mengerikan itu sehingga Allah menyelamatkannya?

IA HANYA MENGAKU KEPADA ALLAH BAHWA IA TELAH MELAKUKAN KEZALIMAN.

Inilah yang diucapkan Yunus kepada Allah:

“BAHWA TIDAK ADA TUHAN SELAIN ENGKAU. MAHA SUCI ENGKAU, SESUNGGUHNYA AKU ADALAH TERMASUK ORANG-ORANG YANG ZALIM.” (Al Anbiyaa’: 87)

Lalu ada Zakariya dan istrinya yang sudah tua, dan mandul. Yang bisa ia lakukan hanya BERDOA tanpa kenal putus-asa.

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik.” (Al Anbiyaa’: 89)

Apakah Allah dalam kemustahilan Zakariya memiliki anak, bisa menganugerahinya keturunan? Bagaimana bisa? Bukankah mereka sudah tua dan istrinya mandul?

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya DAN KAMI JADIKAN ISTRINYA DAPAT MENGANDUNG….” (Al Anbiyaa’: 90)

Sebenarnya apa yang membuat doa Zakariya dikabulkan Allah dalam kemustahilan seperti itu?

“…SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SELALU BERSEGERA DALAM MENGERJAKAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG YANG BAIK, DAN MEREKA BERDOA KEPADA KAMI DENGAN HARAP DAN CEMAS. DAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG KHUSYUK KEPADA KAMI.” (Al Anbiyaa’: 90)

Terakhir dikisahkan kisah Maryam yang selalu menjaga kehormatannya. Lalu lahirlah Isa, sebagai tanda kekuasaan Allah yang besar bagi semesta alam.

Seluruh kisah Nabi dalam rangkaian ini bermuara pada satu hal:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan AKU adalah Tuhanmu, maka SEMBAHLAH AKU.” (Al Anbiyaa’: 92)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: