Kisah Pengorbanan

Untuk anggota Quranic Enlightenment

Lmq Qur’ani 25 November 2009 jam 21:36 Balas

Ibrahim AS Mencari Tuhan
Betapa cerdas seorang pemuda Babilonia yang hidup terasing dari kebiasaan kaumnya. Sebab, ia berpikir lebih maju daripada mereka. Dalam kesendiriannya, ia temukan kesadaran tentang hakikat dirinya, serta betapa sesat kondisi kaumnya. Ia pun mengkritik, “Pantaskah kalian jadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat kalian dalam kesesatan sejati.” Demikianlah ia termasuk seseorang yang diberi ‘penglihatan’ akan keagungan Tuhannya. Dan demikianlah ia menjadi seorang yang penuh keyakinan (QS. 6: 74-75).

Juga ketika ia ‘mencari’ Tuhannya, segera saja ditolaknya segala benda langit yang terbenam, apakah itu bintang, bulan, atau matahari. Maka ia pun berkata, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb Pencipta langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukan termasuk orang yang mempersekutukan-Nya.” (QS. 6: 76-79).

Adakah di zaman kini sosok sepertinya, atau setidaknya yang belajar darinya – salah seorang dari dua Khalilullah di antara manusia? Ketika ada seorang penguasa yang seenaknya saja ‘membunuhi’ rakyatnya – secara jelas atau terselubung – adakah penguasa itu berlagak menjadi tuhan, layaknya Namrudz sang raja Babilon yang ditantang oleh Ibrahim untuk bisa menghidupkan dan mematikan, lalu dipanggilnya dua orang tawanan, ia bunuh yang satu dan ia biarkan yang lainnya tetap hidup? Namun ketika ditantang menerbitkan matahari dari arah terbenamnya, ia terdiam seribu bahasa (QS. 2: 258).

Pengorbanan Ibrahim AS
Ibrahim AS bukanlah seperti kebanyakan pengamat yang suka melontar kritik tapi kemudian lari tak mau menerima resiko akibat kritiknya itu – melontarkan kritik memang lebih mudah daripada dikritik. Tapi Ibrahim, ia tetap tegar mengkritisi orang-orang zhalim dan perilaku menyimpang kaumnya. Walaupun setelah itu ia dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, tak sedikit pun ia gentar. Dan kemudian ia pun harus hijrah dari negerinya. Maka perginya ke barat (ke Palestina hingga menginjakkan kaki di negeri Fir’aun) – adalah tetap dalam rangka pengorbanan kepada Tuhannya (QS. 35: 95-99).

Pengorbanan macam apa dari seorang istri yang merekomendasi istri untuk suaminya? Dan ketika dikaruniai Isma’il AS sebagai bukti bahwa Allah mendengar doanya – dan Allah Maha Mendengar – maka pengorbanan setelah itu lebih besar lagi. Pengorbanan macam apa dari seorang suami dan ayah, yang mencintai keluarganya, dengan meninggalkan mereka di lembah tandus yang tiada bertanam-tanaman – di sisi rumah Allah (Ka’bah) yang dihormati? Untuk apakah semua itu? Supaya mereka mendirikan shalat, supaya dijadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan supaya Tuhan memberi mereka rezeki di padang gersang itu dengan buah-buahan supaya mereka bersyukur (QS. 14: 37).

Siapakah yang lebih didengarnya, ketika Tuhan mewahyukan kepadanya lewat mimpi agar ia menyembelih anaknya, Tuhan ataukah syaitan penggoda yang diikutinya? Nyatanya, ia tetap bersungguh hati mengorbankan sang anak di pangkuannya sendiri. Itu pun dilakukan tanpa memaksa sang anak yang mulai beranjak dewasa, sebab anak itu juga sama memiliki kesungguhan dan kesabaran hati. Belakangan, kisah pengorbanan keluarga itu menjadi salah satu ritual ummat pengikut millah (ajaran)nya – rangkaian ibadah haji hingga idul qurban.

Itulah sosok kekasih Allah. Ia telah menjadikan dirinya seorang yang cerdas. Ketika melihat diri dan alam semesta, memperhatikan kelakuan kaumnya, ia tidak melihat itu sebagai sesuatu yang wujud semata. Ia melihat hakikat di balik semua itu, bahwa ia harus taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Maka segala pengorbanan itu bukanlah untuk diri, istri, anak, keturunan, atau untuk kaumnya. Pengorbanan itu hanyalah untuk Allah. Pantaslah jika ia dijuluki Khalilullah – di samping Muhammad SAW – sebab hatinya telah terisi penuh hanya dengan nama Tuhannya. Namun pengorbanan yang dilakukan untuk Tuhannya itulah yang membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan juga pengikutnya. Dan perhatikanlah bagaimana namanya terus kita sebut di dalam shalat setelah kita bershalawat atas Nabi akhir zaman.

Pengorbanan Muhammad SAW dan Ummatnya
Muhammad SAW adalah juga seorang yang cerdas. Adalah ia seorang yang suka menyendiri berpikir tentang keadaan kaumnya, ber-tahannuts di ketinggian Gua Hira melihat fenomena kerusakan masyarakatnya di bawah sana. Dan seperti Ibrahim AS yang ‘mencari’ Tuhan, pada saat yang ditentukan turunlah wahyu kepadanya “Iqra’ bismi Rabbikalladzii khalaq…”, bukan hanya ke dalam pikirannya melainkan jauh ke dalam hatinya. Setelah itu adalah tanda tanya besar yang membentang, membuatnya ‘gelisah’ beberapa waktu lamanya. Namun Tuhannya tak membiarkan keadaan itu berlarut-larut.

Ketika turun ayat-ayat berikutnya, hadirlah ketenangan pada jiwanya, namun ia tak lantas bertenang-tenang diri seolah tak ada apa-apa. “Hai orang yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan!” (Al-Muddatstsir: 1-2). “Hai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari untuk shalat, kecuali sedikit daripadanya!” (Al-Muzzammil: 1-2). Maka seolah-olah perkataan itu – seperti dilukiskan oleh Asy-Syahid Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an – adalah seperti ini:

“Ini adalah seruan dari langit, suara Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahatinggi … Bangunlah … Bangunlah untuk menyongsong urusan besar yang sedang menantimu dan tugas berat yang akan dibebankan kepadamu. Bangunlah untuk berjuang dan berusaha, berkiprah dan bersusah payah. Bangunlah, waktu tidur dan istirahat telah berlalu … Bangunlah dan bersiapsiagalah menyongsong urusan ini …”

Kini ayat-ayat Al-Qur’an itu seutuhnya berada dekat di samping kita. Dan semua itu pada hakikatnya juga diturunkan bagi kita, sebagai pedoman kehidupan. Ketika setiap kita mulai berpikir tentang diri, mencari hakikat atau rahasia tertinggi yang menjadi pencarian umat manusia selama ini, maka Allah Sang Pencipta menurunkan sesuatu untuk dibaca, agar kita kembali pada-Nya. Maka sudahkah kita membacanya dengan bacaan yang benar sebagai bukti keimanan kita? (QS. 2: 121). Ataukah kita sudah membacanya namun belum juga tercerahkan dan tiada merasakan kelezatan darinya? Betapa banyak orang-orang membacanya tanpa kelezatan iman dan pengorbanan yang terlahir dari proses pembacaan itu.

Adakah kita menangis saat membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan menangis karena iramanya yang syahdu, tapi karena kita menghayati kandungan maknanya? Ataukah kita hanya bisa menangis saat menyimak lagu-lagu sedih, atau menonton film dan sinetron cinta yang mengharukan? Sungguh, alangkah jauhnya kita dari Al-Qur’an, alangkah kurangnya kecerdasan dan pengorbanan di dalam jiwa kita.

Jika kita memahami dan menyadari betul, bahwa hidup ini hanya sekali, nyawa kita hanya satu dan tak ada umur cadangan, maka apakah akan kita sia-siakan hidup yang singkat ini dan mempersingkatnya lagi dengan tujuan yang singkat dan kerdil?

Orang-orang yang cerdas selalu merindukan dan mencari enlightenment moment (saat-saat pencerahan) dalam hidup mereka. Saat pencerahan itu hadir di dalam hati mereka, jadilah mereka manusia berhati cahaya. Mereka tak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Mereka tak lagi hidup hanya untuk keluarganya, masyarakatnya, atau untuk nilai-nilai duniawi yang selalu membelenggu setiap manusia yang lemah.

Mereka hidup untuk memperjuangkan nilai-nilai abadi yang jauh berbeda dengan kenyataan yang mereka temui. Maka jadilah mereka seperti orang-orang yang memegang bara api yang tak boleh dilepas, tapi itu harus mereka lakukan. Itulah perumpamaan orang-orang (ummat Muhammad SAW) yang berpegang teguh pada agamanya. Mereka berkorban untuk menegakkan nilai-nilai ukhrawi itu walaupun seringkali cobaan yang berat menimpa mereka. Atau dengan kata lain, seringkali dunia tidak berpihak kepada mereka. Tapi apakah yang bisa diperbuat oleh dunia terhadap mereka? Tidak ada. Sebab, telah mereka tambatkan semua harapan kepada sumber segala harapan: Allah. []

  1. good article…bravo !!
    http://mobil88.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: