Bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah (2)

Untuk anggota Quranic Enlightenment
Nur Arif Hidayatmo 08 Februari jam 9:21

“…BILA KAMU MEMINTA, MAKA MINTALAH KEPADA ALLAH DAN BILA KAMU MINTA TOLONG, MAKA MINTA TOLONGLAH KEPADA ALLAH…..

Imam Muslim pernah meriwayatkan, ketika Zainab telah dicerai dan masa iddahnya selesai, Nabi Shallalllahu ‘alaihi wa Sallam ingin melamarnya. Beliau mengutus Zaid. Saat itu Zainab sedang mengaduk adonan kue.

“Ya Zainab, sesungguhnya Rasulullah telah melamarmu.”

Zainab tidak serta merta menjawabnya. Dia hentikan pekerjaannya, lalu dia berkata,

“SAYA TIDAK AKAN BERBUAT SESUATU SEHINGGA SAYA BERMUNAJAT KEPADA ALLAH TERLEBIH DAHULU.”

Ibnul Qayyim kemudian menulis: “ZAINAB BANGKIT KE TEMPAT SHALATNYA, IA SHALAT DENGAN SEGENAP RASA JIWANYA.”

Pada saat Zainab sedang bermunajat penuh kekhusyukan kepada Allah, Allah menurunkan Surat Al Ahzab ayat 37:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.

MAKA TATKALA ZAID TELAH MENGAKHIRI KEPERLUAN TERHADAP ISTRINYA (MENCERAIKANNYA), KAMI KAWINKAN KAMU (Muhammad) dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Ibnul Qayyim menulis lagi: “Maka Allah membantu pernikahan antara dirinya dengan Rasulullah ATAS IZIN YANG TURUN DARI ‘ARSY-NYA….”

Ibnul Qayyim menulis seperti itu karena ia menemukan dalam riwayat-riwayat, bila Zainab berkumpul dengan istri-istri Nabi yang lain, ia berkata:

“Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, SEDANGKAN ALLAH MENIKAHKAN AKU DARI TUJUH LAPIS LANGIT.”

Pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj, setelah Jibril membawakan untuk Muhammad seekor Buraq untuk mengantarnya menuju Baitul Makdis, dan begitu sampai di sana beliau langsung mengerjakan shalat 2 rakaat.

Jibril dan Muhammad kemudian diperjalankan ke langit. Lalu Jibril meminta supaya pintu langit dibuka. Jibril pun ditanya, “Siapa Anda?” Lalu ia menjawab, “Aku Jibril.”

Lalu ia pun ditanya lagi, “Siapa yang bersama Anda?” Jibril menjawab, “Muhammad.”

Jibril ditanya lagi, “Sudah diutuskan ia menjadi Rasul?” Jibril menjawab, “Ya benar.”

Lalu pintu langit kemudian terbuka dan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam melihat Adam. Dan Adam mendoakannya semoga beroleh kebaikan.

Di pintu langit ke-2, Jibril ditanya pertanyaan yang sama. Dan setelah dijawab semuanya, pintu langit terbuka. Di sana Nabi melihat Isa putra Maryam dan Yahya putra Zakaria. Dan keduanya mendoakan Nabi semoga beroleh kebaikan.

Di pintu langit ke-3, Jibril ditanya pertanyaan yang sama. Dan setelah dijawab semuanya, pintu langit terbuka. Di sana Nabi melihat Nabi Yusuf, yang ketampampanannya membawa ketampanan separuh dunia. Dan ia mendoakan Nabi semoga beroleh kebaikan.

Di pintu langit ke-4, Jibril ditanya pertanyaan yang sama. Dan setelah dijawab semuanya, pintu langit terbuka. Di sana Nabi melihat Nabi Idris. Dan beliau mendoakan Nabi semoga beroleh kebaikan.

Di pintu langit ke-5, Jibril ditanya pertanyaan yang sama. Dan setelah dijawab semuanya, pintu langit terbuka. Di sana Nabi melihat Nabi Harun. Dan beliau mendoakan Nabi semoga beroleh kebaikan.

Di pintu langit ke-6, Jibril ditanya pertanyaan yang sama. Dan setelah dijawab semuanya, pintu langit terbuka. Di sana Nabi melihat Nabi Musa. Dan beliau mendoakan Nabi semoga beroleh kebaikan.

Di pintu langit ke-7, Jibril ditanya pertanyaan yang sama. Dan setelah dijawab semuanya, pintu langit terbuka. Di sana Nabi melihat Kakek beliau, Nabi Ibrahim, yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur. Setiap hari 70.000 malaikat masuk ke dalamnya, dan tidak pernah kembali. Dan beliau mendoakan Nabi semoga beroleh kebaikan.

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. KEPADA-NYALAH NAIK PERKATAAN-PERKATAAN YANG BAIK dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS Fathir: 10)

Menurut beberapa ahli tafsir, maksud “KEPADA-NYALAH NAIK PERKATAAN-PERKATAAN YANG BAIK” adalah kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH. Apabila kalimat itu kita baca, ia akan naik menembus lapisan-lapisan langit lalu sampai kepada Allah Swt. Wallahu a’lam.

Maka bila kita ingin agar doa-doa kita bisa menembus langit, MENGAPA TIDAK KITA TUMPANGKAN SAJA DOA-DOA KITA ITU KEPADA KALIMAT LAA ILAAHA ILLALLAAH?

Kita baca kalimat itu, lalu kita berdoa dengan doa yang banyak, dan kita tutup lagi menggunakan kalimat itu. Mudah-mudahan doa kita akan ikut terbawa olehnya menembus 7 lapis langit. Dan bila doa-doa kita telah sampai ke HADIRAT ALLAH, KITA TINGGAL MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI SAW.

Suatu hari Nabi pernah mendengar ada sahabat yang berdoa:

Allahumma innii as’aluka bi annii asyahdu annaKa Anta LAA ILAAHA ILLA ANTA al ahadushahomad alladzii lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuwwan ahad.

Nabi bersabda: “Ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya. Bila seseorang memohon dengan Nama tersebut, ALLAH AKAN MEMBERI. DAN KALAU IA BERDOA PASTI ALLAH AKAN MENGABULKAN…”

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: