Ikatan Suci itu

Untuk anggota Quranic Enlightenment
Hermawan Prasojo 28 Januari jam 6:20 Balas

Senyap di hening pagi, lima tahun yang lalu, ragu tiba-tiba menyergap. Kurang dari 10 menit lagi akad nikah akan dilangsungkan. Seperti ada kekuatan lebih yang dibutuhkan daripada sekedar mengucap “qobiltu nikahaha…….”. Tiba-tiba ada tangan sahabat yang menepuk, menghentikan tilawah beriring tetes air mata. “Mari akh, penghulunya sudah datang”. Melangkah menuju mushola sederhana. Ada kemantapan batin yang tak terduga sebelumnya, dan terlaksanalah akad itu, yang merubah semuanya. Dari bukan siapa-siapa menjadi yang berhak, dari tak kenal menjadi yang bertanggungjawab, dari dosa menjadi pahala. Alloh menyebut ikatan antara suami istri dengan mistaqon gholidzo (Q.S An-Nisa 4 : 21). Kata mistaqon gholidzo (perjanjian yang kokoh), disebutkan pula dalam Al-Qur’an yaitu pada saat Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (QS. Al Ahzab 33:7).

Betapa suci dan kuatnya ikatan pernikahan itu sehingga ia disamakan dengan perjanjian Alloh dan Rosul-Nya. Maka menikahpun tak semestinya diniatkan sekedar ‘meresmikan’ hubungan laki-laki dan perempuan, akan tetapi lebih dari itu, menikah adalah mengambil peran dalam kehidupan, saling menopang dalam kebaikan, dan menjadi bagian dari batu bata peradaban.

Keluarga baru yang terbentuk pada mulanya ibarat sampan kecil yang akan mengarungi lautan. Ia meski gigih menantang badai, menghadapi terjangan ombak, dan dalamnya laut. Suami istri perlu menyesuaikan diri satu sama lain. Sebab begitulah perbedaan mesti diharmonikan. Laki-laki dan perempuan sudah jelas dua makhluk yang berbeda dengan karakter dan ciri yang berbeda. Belum lagi latar belakang keluarga, sosial, pendidikan, dan bahkan latar belakang ekonomi suami dan istri tentu membuat perbedaan pula. Maka dibutuhkan proses ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan takaful (saling menanggung).

Lambat laun sampan kecil itu menjadi kapal besar, semakin kuat, dan tangguh. Tetapi lautan yang diarungipun semakin dalam dan ganas. Suami dan istri tak lagi sendiri. Ada anak-anak yang menjadi amanah, ada peran dan tanggungjawab sosial yang juga bertambah, ada amanah membawa kebaikan yang bertambah pula. Dibutuhkan pembagian peran sekaligus keteguhan langkah, kreatifitas sekaligus kesabaran, kegigihan sekaligus cinta yang tak pernah habis.

Sebab tak jarang kapal besar bertemu badai, petir, dan ombak yang besar pula. Sesekali petir menghantam tiang layar dan patah, ombak menghantam lambung kapal dan bocor, atau badai meniup kencang dan mengombang-ambingkan kapal besar itu. Inilah ujian yang sesekali harus dilalui. Maka agar kapal tak salah arah dan kerusakan tak semakin parah, sang nahkoda (suami) harus punya petunjuk arah yang jelas. Al-Qur’an dan Sunnah adalah pegangan yang tak boleh lepas. Ibadah adalah tiang yang kokoh, kesabaran adalah bekal untuk mengarungi samudera yang luas. Teringat sebuah sms saat pernikahan “Pernikahan adalah Fakultas Kesabaran dari Universitas Kehidupan”.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: