KELUARGA TERINDAH

Untuk anggota Quranic Enlightenment
Hermawan Prasojo 21 Januari jam 6:53 Balas
Berkeluarga, bukanlah semata-mata persoalan cinta, senang, dan bahagia. Ia adalah perjalanan panjang mengarungi samudera hidup yang tak jarang berhadapan dengan gelombang yang ganas. Tapi seperti yang pernah dikatakan seorang sahabat saya “kadang-kadang Allah sembunyikan MATAHARI, dan Dia datangkan PETIR serta KILAT, kita menangis & bertanya-tanya: kemana hilangnya SINAR dan CAHAYA ?? …rupa-rupanya Allah mau menghadiahkan kita PELANGI YANG INDAH”. Ujian dan cobaan dalam keluarga maupun individu, seringkali adalah cara-Nya untuk menjadikan kita lebih baik.

Mungkin inilah saatnya kita berkaca pada beberapa keluarga dalam Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam Q.S Ali Imran ayat 33: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di seluruh alam semesta.”

Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh dari ayat 1 sehinga 28, juga dalam surah “Hud” ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.
Betapa sedih hati nabi Nuh mendapati anaknya termasuk bagian dari orang-orang yang mendustakannya dan tak menghiraukan ajakannya (Q.S Hud 42-43), bahkan nabi Nuh memohon kepada Alloh (Q.S Hud 45), akan tetapi Alloh memberikan jawaban yang tegas bahwa anaknya sudah bukan lagi keluarganya, karena perbuatan anaknya itu sungguh tidak baik (Q.S Hud 46). Setelah melewati semua itu, Alloh berfirman dalam Q.S Hud: 48 “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukminin) yang bersamamu.

Nabi Ibrahim jugalah kisah panjang tentang kesabaran dan keteguhan menghadapi ujian. Episode paling terkenal dari kisah Nabi Ibrahim adalah ketika Allah swt. mengaruniakan seorang putra kepadanya di saat usianya sudah sangat lanjut, sementara istrinya adalah seorang yang mandul. Penantian yang sekian lama membuat Ibrahim sangat mencintai anak semata wayangnya itu. Tapi, Allah swt. ingin menguji imannya melalui sebuah mimpi -yang bagi para nabi adalah wahyu-. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Sebelum melaksanakan perintah itu, terjadi dialog yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Ternyata, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah. Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah swt. Ketegaran sang ayah untuk menyembelih sang anak dan kesabaran sang anak menjalani semua itu telah membuat mereka berhasil menempuh ujian yang maha berat tersebut. Allah swt. menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah korban pada hari Idul Adha. Kisah ini direkam dalam Al-Qur’an surat ash-Shaffaat ayat 100-107.

Tentang keluarga Imran, satu-satunya surat dalam Al-Qur’an yang diberi nama dengan nama sebuah keluarga adalah surat Ali Imran (keluarga Imran). Tentunya bukan sebuah kebetulan nama keluarga ini dipilih menjadi salah satu nama surat dalam Al-Qur’an. Di samping untuk menekankan pentingnya pembinaan keluarga, pemilihan nama ini juga mengandung banyak pelajaran yang dapat dipetik dari potret keluarga Imran. Dikisahkan bahwa Imran dan istrinya sudah berusia lanjut. Akan tetapi keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Maka istri Imran bernazar, seandainya ia dikaruniai Allah seorang anak ia akan serahkan anaknya itu untuk menjadi pelayan rumah Allah (Baitul Maqdis). Nazar itu ia ikrarkan karena ia sangat berharap agar anak yang akan dikaruniakan Allah itu adalah laki-laki sehingga bisa menjadi khadim (pelayan) yang baik di Baitul Maqdis. Ternyata anak yang dilahirkannya adalah perempuan. Istri Imran tidak dapat berbuat apa-apa. Allah swt. telah menakdirkan anaknya adalah perempuan dan ia tetap wajib melaksanakan nazarnya. Ia tidak mengetahui bahwa anak perempuan yang dilahirkannya itu bukanlah anak biasa. Karena ia yang kelak akan menjadi ibu dari seorang nabi dan rasul pilihan Allah. Setelah itu, anak perempuan -yang kemudian diberi nama Maryam- tersebut diasuh dan dididik oleh Zakaria yang juga seorang Nabi dan Rasul, serta masih terhitung kerabat dekat Imran. Kisah ini dapat dilihat pada surat Ali Imran ayat 35-3

Maka, bila hari ini keluarga kita sedang menghadapi ujian atau cobaan, itu jugalah caraNya untuk membuat keluarga kita lebih baik. Kita hanya mesti bersabar, teguh, dan penuh keyakinan menjalani ujian itu. Sebagaimana seorang sahabat saya yang lain menceritakan kisahnya 5 tahun yang lalu, saat ia belum memiliki apa-apa dalam berumah tangga. Ia tetap teguh, sabar, dan yakin, sampai akhirnya Alloh memberikan karunia-Nya. Sahabat saya ini sering mengatakan pada saya sembari menunjukkan jemarinya ke hatinya “Disini akh, disinilah letak seberapa luas dan lapang hidup kita”. Ya, di hati kita. Hati yang lapang bisa membuat rumah yang sempit menjadi istana, menampung masalah yang besar menjadi kecil, dan membuat cobaan menjadi selalu bisa dilalui. Maka buatlah istana di dalam hati suami, istri, dan anak-anak dalam keluarga kita, dan semoga kita akan menyaksikan, lebih tepatnya merasakan betapa indahnya keluarga kita.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: