MENJAGA GENERASI

Untuk anggota Quranic Enlightenment
Hermawan Prasojo 04 Februari jam 7:04 Balas

Anak. Ia seperti anugerah sekaligus amanah. Ia tempat kita berharap menumpah cinta, kasih, keceriaan, sekaligus harapan tentang masa depan yang lebih baik. Bukan hanya masa depan dunia ini, tapi juga masa depan kita-para orang tua- di akhirat kelak. Merekalah yang kita nanti do’anya tak pernah putus menembus langit. Akan tetapi, anak jugalah bisa menjadi fitnah bagi orang tuanya.

Benarlah apa yang diingatkan Al-Imam Al-Ghazali dalam Al-Ihya’nya bahwa “Anak adalah amanah bagi orang tuanya. Hatinya yang suci merupakan permata tak ternilai harganya, masih murni dan belum terbentuk. Dia bisa menerima bentuk dan corak apapun yang diinginkan. Jika dia dibiasakan dan diajari kebaikan, maka akan tumbuh pada kebaikan & menjadi orang yang berbahagia dunia dan akhirat. Pahalanya bisa dinikmati orang tuanya, guru dan pendidiknya. Jika ia diabaikan dan dibiarkan, maka dia akan menderita dan rusak. Dosanya juga ada di pundak orang yang bertanggung jawab mengurusnya”.

Pantaslah pula kiranya, para nabi dan rosul berdo’a sungguh-sungguh kepada Alloh agar dikarunai anak-anak yang taat kepada Alloh. Dalam Q.S Al-Baqoroh (2) Ayat 128 Nabi Ibrahim berdo’a “Ya Tuhan kami jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu…”, Nabi Zakariya juga berdo’a (Q.S Maryam (19) Ayat 5-6) “Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhoi”.
Hamba-hamba Alloh yang soleh juga berdo’a, sebagaimana disebutkan dalam Q.S Al-Furqon (25) Ayat : 74 “Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Adalah menjadi kewajiban orang tua, untuk memiliki visi dalam mendidik anak-anaknya. Sebab mereka dititipkan Alloh bukan sekedar untuk ‘dikagumi’ kelucuannya ketika balita dan membuat orang tua bahagia, tidak sekedar untuk melepas lelah dengan bermain bersamanya, tidak pula untuk sekedar dipenuhi kebutuhan jasadiyahnya semata. Namun orang tua perlu belajar dari Luqman dalam mendidik anak-anaknya, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan Alloh adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (Q.S Luqman (31) Ayat : 13). Ayat ini menggambarkan Luqman mendidik anak dengan kasih sayang, hal ini dapat kita cermati dari seruan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan sebuah ungkapan yang penuh muatan kasih sayang, sentuhan kelembutan dalam mendidik anak-anaknya. Indah dan menyejukkan. Kata Bunayya, mengandung rasa manja, kelembutan dan kemesraan, tetapi tetap dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, dan bukan berarti mendidik dengan keras. Disamping itu, ayat tersebut juga mengingatkan orang tua untuk mendidik aqidah anak.

Setelah aqidah anak kuat, orang tua perlu menekankan pendidikan pada aspek ibadah seperti salat, berdakwah dengan memberi contoh terlebih dahulu, seperti mencegah diri dari yang mungkar dan selalu melakukan kebaikan. Setelah itu memberi nasehat kepada orang lain untuk meninggalkan kemungkaran dan mengerjakan kebaikan. Dan yang tidak kalah penting adalah sabar dalam menghadapi cobaan hidup, sebagaimana disebutkan dalam Q.S Luqman (31) Ayat :17 “Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Semoga dengan demikian, kita para orang tua menjadi senantiasa sadar bahwa tak bisa ‘sekedarnya’ mendidik mereka. Ia perlu memberikan teladan yang baik, kasih sayang yang tulus, dan perhatian yang sungguh-sungguh. Menjaga anak-anak yang hatinya suci dan belum terbentuk itu, menjadi permata yang indah.

Maka jangan biarkan televisi, vcd, video game dan alat-alat sejenisnya, merebut perhatian anak-anak kita dari para orang tuanya. Semoga Alloh senantiasa memberikan petunjuk dan kemudahan serta memberikan kelembutan hati anak-anak kita untuk senantiasa menerima cahaya kebenaran.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: