Berbicara dan Mendengar Lebih Baik

Untuk anggota Quranic Enlightenment
Hermawan Prasojo 11 Februari jam 18:15 Balas

Berbicara dan mendengar, dua aktivitas yang senantiasa dilakukan manusia. Laksana timbal balik yang akan senantiasa terjadi. Tak terkecuali suami-istripun terlibat dalam dua hal ini :berbicara dan mendengar. Pada sebagian profesional, pekerja kantor di bagian PR, pimpinan, sales, pebisnis, dan pekerja di bidang lain, dua kemampuan ini seringkali diasah untuk meningkatkan kemampuan kerja dan mencapai tujuan yang diinginkan. Bahkan pelatihan dengan biaya jutaan biasa dilakukan untuk menyempurnaan dua kemampuan ini :berbicara dan mendengar.

Di sisi yang lain, berbicara dan mendengar justru seringkali menjadi awal timbulnya persoalan suami istri. Banyak suami yang berpendapat istrinya cerewet dan banyak istri yang berpendapat suaminya tak peduli dengannya. Sering tanpa ujung, saling memberikan argumentasi, bahwa dialah pihak yang paling benar.

Berbicara, apalagi terhadap pasangan hidup bukanlah sekedar aktivitas mulut. Sesekali merenunglah terhadap aktivitas yang selalu kita lakukan ini. Ia bisa menjadi begitu lembut, indah, anggun, menyenangkan. Ia juga bias tajam, pedas, menyakitkan. Berbicara adalah aktivitas suara, tapi ia jugalah aktivitas otak dalam memilah kata yang tepat, dan aktivitas hati untuk peka terhadap lawan bicara. Jika yang dibicarakan adalah kebaikan, insyaAlloh, kebaikan pulalah yang terjadi. Itulah mengapa Al-Qur’an menyebutkan salah satu ciri orang beriman adalah: “dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (Q.S 23:3). Dan perpesan Rosululloh SAW “Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim).

Sementara itu, mendengar adalah aktivitas diam yang anggun. Ia seperti kesabaran yang tak habis. Bahkan tak jarang menyelesaikan persoalan dengan indah. Bayangkan, saat suami, atau istri sedang marah, dan mengemukakan kata-katanya dalam kemarahan, sementara di satu sisi lawan biacaranya diam, sungguh-sungguh mendengarkan, matanya menatap dengan cinta, ekspresi wajahnya mengikuti. Dan setelah semua diungkapkan baru balik menjawab, member solusi, atau memberikan kata-kata yang menguatkan. Bukankah akan menjadi indah dan dinginlah kemarahan itu?.

Maka, sebagai sepasang suami istri, kapankah terakhir kali kita, berbicara dengan begitu baik terhadap pasangan kita. Menatap dengan indah, memberikan senyum terbaik, mengeluarkan kata-kata yang baik, memujinya dengan jujur dan tulus. Kapankah pula terakhir kali kita sebagai pasangan, menyediakan diri untuk mendengar, ya mendengar apapun yang diucapkan pasangan kita dengan sunguh-sungguh. Menyediakan sepenuh waktu dan perhatian. Menghadirkan pikiran dan hati dalam kesabaran yang penuh.

Jika jawabannya kemaren, tadi, atau selalu, maka bersyukurlah, tapi jika jawabannya entah kapan, dulu, dan jarang, maka mungkin kita harus kembali banyak belajar berbicara dan mendengar lagi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: